Agak malu sebenarnya saya bercerita tentang ini. Seperti membongkar aib sendiri begitu. Tetapi, niat ingin berbagi pengalaman dan trik lebih memenangkan pertarungan (kok gini bahasanya, ya? He he). Ada satu lagi risiko tulisan ini, yaitu saya harus menyebutkan solusi yang bernada promosi. Kita lihat saja nanti.
Permasalahan kuku jempol saya yang berbau dan kadang bengkak memerah dan bernanah sudah lami sekali saya alami. Bertahun-tahun, mungkin. Awalnya tidak terlalu saya permasalahkan. Sempat juga saya merasa nggak pede dengan diri saya sendiri ketika tahun 2003 atau 2004 saya memperoleh pekerjaan meng-input data inventaris Pemkab Sumedang. Pekerjaan itu mengharuskan saya memakai sepatu seharian. Padahal sebelumnya, selepas kuliah, saya terbiasa memakai alas kaki non sepatu yang menutup rapat telapak kaki. Mulailah bau tak sedap yang berasal dari kuku jempol kaki saya meneror rasa percaya diri saya. Saya usahakan dengan berbagai cara untuk meredam bau itu, tapi sepertinya tidak berhasil dengan maksimal. Hingga kemudian saya tidak memikirkannya lagi.
Baru kemarin-kemarin, beberapa tahun--mungkin dua belas atau tiga belas tahun--setelah teror pertama, ketika saya akan mengikuti kegiatan semacam survival, barulah saya ngeh dengan kuku jempol kaki lagi. Ya, mulai tercium bau tak sedap dan ada bengkak merah di sisi luarnya. Saya membayangkan bagaimana jadinya kaki saya selama kegiatan itu. Terbayang oleh saya kaki yang terus terbungkus sepatu sepanjang hari, belum lagi dengan kemungkinan basah karena air sungai dan lainnya. Kekhawatiran itu membuat saya mencari-cari cara mengatasi masalah ini.
Ternaya banyak cara yang orang tawarkan. Ada yang berdasar pengalaman, ada yang karena ingin menjual produk, ada yang sekedar njiplak tulisan orang lain. Akhirnya, dengan pertimbangan kepraktisan, saya gunakan sejenis minyak urut tradisional yang sudah dikemas dalam botol. Minyak tersebut berbau khas. Kata isteri saya, baunya sangat akrab dengan bau yang tercium ketika dia melewati toko-toko milik Babah Tionghoa ketika dia bersekolah SLTA di Kota Sumedang dulu. Saya lihat juga di label luarnya tertera tulisan China. Ada gambar tawon atau lebah di label itu. Ya, orang menyebutnya Minyak Tawon. Padahal, dalam penjelasan bahan pembuatannya, tidak ada bahan yang berhubungan langsung dengan tawon.
Hasilnya? Dengan mengoleskannya--saya biasa lakukan menjelang tidur malam, karena tidak segera dibasuh dalam waktu cepat setelah pengolesan--beberapa kali, beberpa hari kemudian hilanglah rasa sakit, bengkak dan bau dari jempol kaki saya. AlhamduliLlaah. Tapi, ada satu yang sangat saya sesalkan. Meskipun kaki saya sudah sembuh, saya tidak bisa mengikuti kegiatan itu. Karena itu juga saya sempat marah bebebrapa hari kepada isteri saya. Saya menuduh dia sebagai penyebab batalnya saya mengikuti kegiatan yang menurut saya sangat penting itu. Meskipun akhirnya saya sadar, bukan sesederhana itu masalahnya.
Lepas dari semua itu, kaki saya sembuh. Terimakasih yaa Rabb.
Awisurat, 25 Desember 2016/25 Rabii' al-Awwaal 1438
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Desember 2016
Kamis, 22 Desember 2016
Pengalaman dengan Barang Elektronik (untuk) Luar
BismiLlaah
Sudah lama sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang masalah ini. Ceritanya, saya sudah amat pingin punya printer yang bisa mencetak di atas media kertas berukuran A3. Keliling-keliling di dunia maya, kesana-kemari saya dapati rata-rata printer dengan kemampuan seperti itu berformat bongsor. Apalagi printer idaman saya adalah yang multifunction, bisa print, scan dan copy.
Hingga di suatu saat, saya melihat ada iklan di toko jual-beli online yang menawarkan printer dengan yang saya maui. Si pengiklan bilang barang langka, rare item, meskipun barangnya berwarna putih, bukan item (becanda, ha ha). Memang ada jeda beberapa bulan antara waktu pertama melihat iklan (dan cari-cari informasi tentang barang) tersebut dengan pembeliannya. Karena takdir Allah Ta'ala jua isteri saya mendapat rejeki agak banyak dari keluarganya. Jadinya, saya pun mendapat dana talangan untuk menjemput si printer idaman.
Karena penjual printer tersebut ada di Bandung, saya pun melalukan perjalanan ke kota, jadi ingat film jadul "Kabayan Saba Kota". Saya dan si pengiklan sepakat untuk bertemu di dekat pasar Sadang Serang. Untuk menuju ke sana, dari Tanjungsari, Sumedang, saya harus naik turun beberapa kali kendaraan umum. Mulai dari DAMRI, angkot dan angkot lagi.
Singkatnya, saya pun diantar ke persemediaan si printer. Saya lihat masih utuh kardus beserta perlengkapannya. Hanya saja memang kardusnya terlihat bekas dibuka. Artinya, saya bukan orang pertama yang memeriksanya. Setelah sedikit tawar-menawar, sepakatlah kami dengan harga yang disebutkan di iklan. Ya, tanpa diskon atau apalah. Printer pun saya bawa pulang, mudik.
Dengan rasa gembira, dicobalah itu printer. AlhamduliLlaah berjalan. Senangnya hatiku, punya printer yang bisa nyetak A3 tetapi ramping. Printer itu adalah Epson EP-978A3. Hingga beberapa kali percobaan, printer dengan enam warna tinta itu menunjukkan keasliannya dengan cara tak terduga. Ternyata printer itu berdaya listrik 100V, haduuh. Ya, Saya baru ngeh setelah ada bau gosong dan listrik rumah njepret. Ya Rabb, kenapa saya nggak perhatikan label kecil di bagian belakangnya.
Yang agak membuat saya heran, si printer ternyata made in Indonesia. Tapi semua lembar dan buku panduannya hanya berbahasa Jepang. Saya belum mengerti tentang ini. Apakah hasil produksi Indonesia ini lebih bagus sehingga Jepang memasarkannya untuk mereka sendiri? Kenyataannya, banyak printer yang kita pakai dibuat di China. Dalam situs resmi pemilik merek printer yang berpusat di Jepang itu pun hanya disediakan uraian tentang si printer dalam bahasa Jepang. Sementara printer dengan merek sama tetapi beda type didukung dengan berbagai bahasa.
Untuk mengatasi masalah perbedaan voltase ini saya pun melakukan berbagai upaya. Mulai dari membawa ke tukang servis, lalu membeli stabilizer, mengganti sikring, dll. Akhirnya, jalan terakhir yang ternyata it's works adalah membawa blok power supply printer tersebut ke ahlinya di Istana Plaza Kosambi.
Setelah bertanya sana-sini ke beberapa gerai yang berhubungan dengan printer, saya ditunjukkan ke tukang servis khusus power supply dan yang berkait dengan itu. Pak Aseph namanya, masih di Istana Plaza. Dan, dengan membayar Rp 150.000,- si printer bisa berjaya kembali, tanpa harus memakai stabilizer. Sesuai permintaan saya, Pak Aseph mengubah komponen power supply-nya sehingga siap dialiri listrik 220V. AlhamduliLlaah.
Awisurat, 22 Desember 2016/23 Rabii' al-Awwaal 1438
Sudah lama sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang masalah ini. Ceritanya, saya sudah amat pingin punya printer yang bisa mencetak di atas media kertas berukuran A3. Keliling-keliling di dunia maya, kesana-kemari saya dapati rata-rata printer dengan kemampuan seperti itu berformat bongsor. Apalagi printer idaman saya adalah yang multifunction, bisa print, scan dan copy.
Hingga di suatu saat, saya melihat ada iklan di toko jual-beli online yang menawarkan printer dengan yang saya maui. Si pengiklan bilang barang langka, rare item, meskipun barangnya berwarna putih, bukan item (becanda, ha ha). Memang ada jeda beberapa bulan antara waktu pertama melihat iklan (dan cari-cari informasi tentang barang) tersebut dengan pembeliannya. Karena takdir Allah Ta'ala jua isteri saya mendapat rejeki agak banyak dari keluarganya. Jadinya, saya pun mendapat dana talangan untuk menjemput si printer idaman.
Karena penjual printer tersebut ada di Bandung, saya pun melalukan perjalanan ke kota, jadi ingat film jadul "Kabayan Saba Kota". Saya dan si pengiklan sepakat untuk bertemu di dekat pasar Sadang Serang. Untuk menuju ke sana, dari Tanjungsari, Sumedang, saya harus naik turun beberapa kali kendaraan umum. Mulai dari DAMRI, angkot dan angkot lagi.
Singkatnya, saya pun diantar ke persemediaan si printer. Saya lihat masih utuh kardus beserta perlengkapannya. Hanya saja memang kardusnya terlihat bekas dibuka. Artinya, saya bukan orang pertama yang memeriksanya. Setelah sedikit tawar-menawar, sepakatlah kami dengan harga yang disebutkan di iklan. Ya, tanpa diskon atau apalah. Printer pun saya bawa pulang, mudik.
Dengan rasa gembira, dicobalah itu printer. AlhamduliLlaah berjalan. Senangnya hatiku, punya printer yang bisa nyetak A3 tetapi ramping. Printer itu adalah Epson EP-978A3. Hingga beberapa kali percobaan, printer dengan enam warna tinta itu menunjukkan keasliannya dengan cara tak terduga. Ternyata printer itu berdaya listrik 100V, haduuh. Ya, Saya baru ngeh setelah ada bau gosong dan listrik rumah njepret. Ya Rabb, kenapa saya nggak perhatikan label kecil di bagian belakangnya.
![]() |
| Label Kecil di Belakang Si Printer |
Yang agak membuat saya heran, si printer ternyata made in Indonesia. Tapi semua lembar dan buku panduannya hanya berbahasa Jepang. Saya belum mengerti tentang ini. Apakah hasil produksi Indonesia ini lebih bagus sehingga Jepang memasarkannya untuk mereka sendiri? Kenyataannya, banyak printer yang kita pakai dibuat di China. Dalam situs resmi pemilik merek printer yang berpusat di Jepang itu pun hanya disediakan uraian tentang si printer dalam bahasa Jepang. Sementara printer dengan merek sama tetapi beda type didukung dengan berbagai bahasa.
Untuk mengatasi masalah perbedaan voltase ini saya pun melakukan berbagai upaya. Mulai dari membawa ke tukang servis, lalu membeli stabilizer, mengganti sikring, dll. Akhirnya, jalan terakhir yang ternyata it's works adalah membawa blok power supply printer tersebut ke ahlinya di Istana Plaza Kosambi.
Setelah bertanya sana-sini ke beberapa gerai yang berhubungan dengan printer, saya ditunjukkan ke tukang servis khusus power supply dan yang berkait dengan itu. Pak Aseph namanya, masih di Istana Plaza. Dan, dengan membayar Rp 150.000,- si printer bisa berjaya kembali, tanpa harus memakai stabilizer. Sesuai permintaan saya, Pak Aseph mengubah komponen power supply-nya sehingga siap dialiri listrik 220V. AlhamduliLlaah.
Awisurat, 22 Desember 2016/23 Rabii' al-Awwaal 1438
Langganan:
Postingan (Atom)
